This post is also available in: 日本語 English

Meskipun hidup sebagai minoritas, umat Muslim di Jepang menjalankan puasa dan merayakan bulan suci dengan normal baru. Berpuasa di Jepang berlangsung kira-kira 16 jam dan biasanya, menjadi makin panas selama bulan Ramadhan karena biasanya puasa jatuh di awal musim panas.

Hari ini kami mewawancarai anggota Food Diversity Inc. (Halal Media Japan) yaitu Nazaya Zulaikha tentang bagaimana dia merayakan Ramadhan dalam pernikahan internasional dan sebagai seorang Muslim di Jepang.

Sahur Lebih Cepat, Pagi Dini Hari

Jika biasanya sahur dilakukan antara pukul 4 atau 5 pagi di negara asalnya, dia perlu menyantap makanan sahurnya pukul 2 atau 3 dini hari di Jepang karena imsak dan waktu matahari terbit datang lebih cepat di Jepang. Hal itu tidak mudah pastinya, karena menurutnya, agak susah untuk bangun di pagi hari. Meskipun begitu untuk mendukung suaminya yang adalah seorang mualaf Jepang melaksanakan puasa, dia berusaha yang terbaik untuk bangun di pagi hari dan menyiapkan santap sahur untuk mereka berdua.

Kebanyakan dia membuat sesuatu yang mudah untuk santap sahur agar menghemat waktu. Dia menyiapkan makanan sahur sehari sebelumnya agar saat tiba waktunya sahur hanya perlu dihangatkan saja dengan microwave, atau untuk mudahnya dia membuat ochadzuke, makanan Jepang yang dibuat dengan menuangkan teh hijau di atas nasi dengan topping biji wijen, umeboshi (buah plum), dsb, dan biasanya dia menggunakan salmon asin sebagai toppingnya.

Karena tidak ada adzan di Jepang, tidak hanya dia tapi semua umat Muslim di Jepang mengatur waktu dengan mengecek aplikasi yang berhubungan dengan ibadah umat Muslim oleh diri mereka sendiri atau dengan melihat jadwal puasa yang diterbitkan oleh masjid lokal.

Setelah selesai santap sahur dan melaksanakan shalat Shubuh, saatnya tidur untuk kedua kalinya.

Lihat Juga

Ramadhan in Japan; How Muslims in Japan Prepare for Ramadhan This Year (2021)
The Prospect of Islamic Activities in Masjid of Japan in 2021

Selamat Pagi dan Puasa Dimulai!

Rutinitas di pagi hari dimulai dari perawatan diri sendiri lalu diikuti oleh sarapan bayi dan pekerjaan rumah. Sebelum hari menjadi lebih panas, dia membawa anak perempuannya ke taman agar bayinya bisa menggerakkan badannya, menjadi lelah, lalu tidur. Di Jepang, para ibu membawa anak-anaknya ke taman atau lapangan sehingga mereka bisa menggerakkan badannya, mengubah suasana hatinya, dan menggunakan energinya sehingga membuat mereka melewati hari dengan suasana hati yang baik dan bisa tidur dengan lelap.

Mengajak anaknya ke taman

Saat anaknya sudah tenang, waktunya dia memulai pekerjaannya!

Alhamdulillah, perusahaannya sangat mendukung dan fleksibel karena dia mulai bekerja secara telework sejak pertama dia bergabung di perusahaan dan berlanjut sampai sekarang. Hal itu sangat membantunya sehingga dia bisa bekerja sambil mengawasi anaknya.

Hampir tidak ada yang berubah pada kehidupan sehari-harinya saat puasa, kecuali ia melewatkan makan siang. Semua berjalan seperti biasa.

Lihat Juva

5 Things Muslims Need to Know When Working in Japan
FAQ; Working in Japan

Apa yang Orang Jepang Pikir Tentang Puasa?

Pertama-tama, mereka tidak akan tahu kalian sedang berpuasa atau tidak jika kalian tidak bicara kepada mereka. Awalnya, saat dia bilang jika dia berpuasa untuk 1 bulan penuh, teman-teman Jepangnya sangat kaget. Hal itu karena mereka berpikir bahwa umat muslim tidak boleh makan dan minum sebulan penuh tanpa memikirkan siang dan malam, padahal sebenarnya kita hanya berpuasa di waktu terang dan pastimya bisa makan dan minum di malam hari.

Attending iftar party held by Japanese government a few years ago

Selama bulan Ramadhan, teman-teman Jepangnya mempertimbangkan untuk tidak mengundangnya makan di siang hari, dan dia memilih untuk tidak berkumpul selama Ramadhan, terutama selama pandemik ini.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by A Y A 🇯🇵🌸 (@nazayazulaikha)

Suaminya yang adalah seorang warna negara Jepang, juga melaksanakan ibadah puasa sambil bekerja di salah satu perusahaan Jepang. Sebenarnya, orang-orang Jepang sangat menghormati orang lain, sehingga suaminya tidak mengalami kendala sulit. Saat rekan kerjanya mengundangnya untuk makan siang, dia menyebutkan sampai kapan dia akan berpuasa, dan cukup hanya itu!

Lihat Juga

Japanese Muslim’s A Day of Fasting in Ramadhan 2021

Buka Puasa, Makan Malam dan Aktifitas Malam yang Ditunggu

Dia biasanya mempersiapkan sesuatu yang manis dan mudah untuk dimakan saat berbuka puasa, seperti puding dan Fruche, fromage frais (keju segar) dengan tekstur yang krimi dan taburan buah-buahan di atasnya. Dia merekomendasikan makanan ini disajikan deingin!

See Also

Break Your Fast With These 3 Japanese Traditional Foods & Drinks
Iftar Meals in Halal Restaurants in Japan

Untuk makan malam, dia biasanya menyiapkan makanan Jepang dan menikmati bersama dengan keluarganya. Waktu makan malam adalah saat yang tepat untuk bercerita tentang kegiatan dalam satu hari.

Setelah selesai menyantap makan malam, dia dan suaminya malaksanakan shalat Tarawih secara bergantian, saat yang satu shalat Tarawih, yang lainnya menjaga bayinya. Lalu, jika masih ada tenaga tersisa dia dan suami akan membaca Al-Quran.

Lihat Juga

Cheers Your Ramadhan With Halal Wagyu de Iftar Set by Yakiniku Panga!
Mosques in Japan During The Novel Coronavirus; the New Normal

Pelajaran di Bulan Ramadhan

Ramadhan adalah kesempatan untuk umat Muslim menjaga dan mengembangkan kontrol diri, disiplin dan koneksi dengan Tuhan. Sebagai seorang ibu dari seorang anak, wanita karir, dan ibu rumah tangga, sebenarnya setiap hari cukup sibuk, tapi ia berkata bahwa Ramadhan memberikannya kelonggaran lebih secara emosional sambil mengembangkan kedisplinannya yang ingin ia jaga pelajarannya saat Ramadhan secara berkelanjutan.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by A Y A 🇯🇵🌸 (@nazayazulaikha)

Lihat Juga

Child-Raising and Parenting in Japan; Everything You Need to Know
FAQ; A Maternity Guide for Muslims Living in Japan